Category: Bisnis Tanaman Kehutanan

Perhitungan kebutuhan benih per hektar 0

Perhitungan kebutuhan benih per hektar

Kesuksesan dalam penanaman bibit tanaman dimulai dengan perencanaan kebutuhan benih per hektar. Perhitungan kebutuhan benih per hektar dapat dilihat di sini

Jabar Potensial Kembangkan Usaha Kayu Olahan 0

Jabar Potensial Kembangkan Usaha Kayu Olahan

Sekretaris Dinas Kehutanan Jabar, AE Toyibat, didampingi Kasi Pemanfaatan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bambang Sugianto, di Bandung, Jumat (27/5), mengatakan, sejauh ini nilai tambah hasil usaha kayu rakyat asal Jabar cenderung masih diperoleh para perajin di Jateng. Soalnya di daerah tersebut, produk-produk barang jadi baik dalam bentuk furnitur, barang seni, bahan-bahan lainnya lebih dahulu berkembang, yang ditunjang kemampuan artistik para perajin di sana.

Padahal sejak beberapa tahun terakhir, kata mereka, pembelian kayu-kayu rakyat asal Jabar terus naik, bukan hanya kayu kelas mahal seperti jati dan mahoni, kini juga sudah semakin banyak dari kayu-kayu kelas ringan seperti albasia, suren, eucalyptus, dll. Di perbatasan Kota Banjar saja, setiap hari ada rata-rata 100 truk yang melintas mengangkut kayu-kayu asal Priangan Timur Jabar ke Jateng.

“Padahal sebenarnya potensi pengembangan usaha produk jadi juga ada di Jabar sendiri. Yang tinggal dikembangkan adalah corak seni dan gaya khas produk-produk kayu yang memunculkan nuansa Jabar, yang selama ini belum terpromosikan optimal,” kata Toyibat.

Pada sisi lain, menurut Toyibat maupun Bambang, berkembangnya industri produk kayu jadi daerah di Jabar, diperhitungkan akan sanggup menyerap banyak tenaga kerja. Paling tidak, adalah pemberdayaan masyarakat desa, sehingga berbagai peluang kerja bermunculan.

Disebutkan, jumlah usaha industri hasil hutan skala kecil di Jabar mengalami perkembangan pesat selama setahun terakhir, seiring bergairahnya usaha kayu rakyat daerahnya. Pertumbuhan tersebut merupakan salah satu pengaruh melonjaknya kebutuhan kayu rakyat, yang diimbangi kegairahan masyarakat menanam pohon-pohon kayu-kayuan di daerahnya. (A-81/das)***

Jadi Jutawan Lewat Sengon 0

Jadi Jutawan Lewat Sengon

Untuk biaya atau modal, sejumlah petani sengon mengatakan, untuk lahan seluas satu hektar seorang petani sengon menghabiskan dana sekitar Rp 75 juta – Rp 100 juta. Biaya itu menyangkut sewa tanah, bibit, pupuk, pagar dan tenaga kerja selama dua tahun. Untuk lahan milik sendiri biaya akan menjadi lebih murah.

Peluang ekonomi yang menjanjikan itu juga ditangkap oleh pemimpin Pondok Pesantren Al Amin, Sukabumi, KH Abdul Basith. Bahkan karena strategisnya sengon sebagai kayu yang memiliki fungsi untuk memulihkan lingkungan yang gundul, KH Abdul Basith kini mengembangkan pesantren khusus yang dinamai Pesantren Konservasi.

Selama dua tahun terakhir, KH Abdul Basith yang pernah mewakili kalangan pesantren pemerhati lingkungan hidup bertemu Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris itu rajin berkampanye di Sukabumi dan sekitarnya, tentang besarnya manfaat menanam sengon.

Dengan dukungan perusahaan air kemasan Danone Aqua dan pejabat terkait setempat, KH Abdul Basith juga mendampingi petani, khususnya di sekitar lahan kritis Gunung Salak untuk bertanam sengon. “Kalau saat ini sebuah keluarga muda memiliki putra atau putri yang duduk di kelas 1 SD, maka lima tahun lagi dia cukup menjual sebatang pohon sengoin untuk biaya masuk SMP,” katanya.

KH Abdul Basith juga membuat rumusan teologis di balik upaya memperbaiki lingkungan melalui usaha tanam sengon ini. Setidaknya, katanya, ada tujuh ibadah atau perbuatan berpahala yang dilakukan manusia dari kegiatan merawat lingkungan dengan menanam sengon. Di antaranya ialah ikut memperbaiki lingkungan hidup memajukan ekonomi.

Namun sejumlah petani sengon menyebutkan bahwa sebelum kokoh sengon sangat ringkih oleh berbagai penyakit. Di antaranya adalah jamur, virus dan ulat. Jika tidak mendapatkan perawatan intensif berbagai penyakit itu bisa menghabisi tanaman. Selain penyakit tersebut, pohon sengon juga rawan oleh berbagai pencurian, dari pencurian kecil-kecilan berupa pencurian daun sengon untuk pakan ternak dan dahan untuk kayu bakar hingga pencurian besar-besaran.

“Tapi sekarang sudah tersedia berbagai jenis obat untuk mematikan penyakit itu. Kalau untuk pencurian tentu mengatasinya dengan pengamanan,” kata Didik, serang petani sengon di Sukabumi.

Untuk menjual hasil sengon, para petani sengon, khususnya petani sengon di Pulau Jawa tidak perlu berusaha payah mencari pembeli. Begitu sengon genap berusia lima tahun atau lebih petani tinggal menelepon perusahaan kayu untuk melakukan negosiasi sebelum penebangan dan transkasi berlangsung. Sebab saat ini banyak perusahana kayu siap mendatangi lahan sengon untuk melakukan pembelian dengan menebang sendiri. (Willy Pramudya)

Budi daya tanaman sengon (Albazia falcataria):

* Tanah yang baik untuk sengon ialah tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau berdebu dengan kemasaman sekitar pH 6-7.
* Sengon termasuk jenis tanaman tropis, yang pertumbuhannya memerlukan suhu 18 -27 C. Ketinggian tempat yang optimal antara 0 – 800 m di atas permukaan laut (dpl), namun masih dapat tumbuh pada ketinggian 1500 m dpl.
* Agar zat-zat yang diperlukan bagi pertumbuhannya lancar sengon membutuhkan batas curah hujan minimum yaitu 15 hari hujan dalam 4 bulan terkering, Sengon juga tidak bisa tumbuh dalam iklim yang terlalu basah atau memerlukan curah hujan tahunan 2000 – 4000 mm dan kelembaban sekitar 50 -75 persen.
* Sengon dibiakkan dengan bijinya. Namun sekarang sudah banyak tempat pembibitan sengon. calon petani sengon tidak perlu melakukan pembiakan sejak biji melainkan dapat membeli bibit dengan ukuran sekitar 30 – 50 cm.
* Sengon ditanam dalam lobang tanam berukuran 30 x 30 x 30 cm
* Jarak tanam 3 x 2 meter sehingga untuk lahan berukuran satu hektar bisa ditanami 1500 – 1600 bibit sengon (satu lubang untuk satu bibit sengon)
* Penanaman sebaiknya dilakukan dalam musim penghujan, bukan musimk kering, sehingga diperlukan perawatan agar lubang tidak tergenang air
* Selama musim kemarau harus dilakukan penyiraman yang optimum agar pertumbuhan dapat optimal
* Pemupukan dilakukan dengan proporsional. Pupuk organik atau kandang lebih dianjurkan.
* Penyiangan dilakukan dengan mencabut satu per satu berbagai gulma yang tumbuh di sekitarnya dengan hati -hati agar akar bibit tidak terganggu.
* Pengawasan terhadap serangan hama binatang seperti semut, tikus rayap, dan cacing dan hama penyakit seperti cendawan dan virus.
* Lahan harus bebas dari pengganggu atau komponen lain untuk memberikan ruang tumbuh bagi sengon.
* Sebelum penanaman perlu dilakukan pengolahan tanah untuk memperbaiki struktur tanah dengan cara mencangkul atau membajak
* Penyulaman, yaitu penggantian tanaman yang mati atau sakit dengan tanaman yang baik. Penyulaman pertama dilakukan sekitar 2-4 minggu setelah tanam, penyulaman kedua dilakukan pada waktu pemeliharaan tahun pertama (sebelum tanaman berumur 1 tahun). Agar pertumbuhan bibit sulaman tidak tertinggal dengan tanaman lain, maka dipilih bibit yang baik disertai pemeliharaan yang intensif.
* Berbagai perawatan seperti pemupukan, penyiangan, pengawasan terhadap hama diperlukan hingga sengon berusia dua tahun.

Sumber : hutbun.cilacapkab.go.id