About us
RAJA BENIH adalah Perusahaan Penyedia Benih dan Bibit Kehutanan. Kami menyediakan berbagai jenis benih dan bibit sesuai kebutuhan anda. Tidak hanya terbatas pada benih dan bibit kehutanan, kami juga menyediakan berbagai jenis tanaman non Kehutanan. Semuanya disesuaikan dengan Tujuan Penggunaan.
more...

1. Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan          : Plantae

Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas                : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Ordo                : Fabales

Famili              : Fabaceae (suku polong-polongan)

Genus              : Calliandra

Spesies                        : Calliandra calothyrsus

           

 

 

 

2. Nama Daerah

Di tempat asalnya, jenis ini memiliki beberapa nama umum, yang paling sering digunakan adalah “cabello de angel” (artinya ”rambut malaikat”) dan “barbe sol” (artinya ”jenggot matahari”). Di Indonesia jenis ini disebut ”kaliandra merah”. ”Kaliandra putih” adalah jenis yang berkerabat tetapi sekarang tidak lagi diklasifikasikan dalam  Callianda, tetapi nama ilmiahnya adalah Zapoteca tetragona.

 

3. Penyebaran dan Tempat Tumbuh

Calliandra calothyrsus merupakan jenis yang unik dalam marganya karena penggunaannya yang luas secara internasional sebagai pohon serbaguna untuk wanatani.  Jenis ini secara alami terdapat di Meksiko dan Amerika Tengah, dari negara bagian Colima, Meksiko, turun ke pesisir utara Panama bagian tengah.  Pada tahun 1936 benih tanaman ini dikirimkan dari Guatemala selatan ke Jawa. Benih ini kemungkinan besar dikumpulkan dari provenans “Santa Maria de Jesus” di Guatemala.  Sampai tahun  1974, berbagai percobaan di tingkat desa telah dilakukan untuk menilai kesesuaiannya untuk penghijauan lahan-lahan yang tererosi di sekitar desa. C. calothyrsus terbukti sesuai untuk berbagai kegunaan sistem wanatani dan dipromosikan oleh instansi kehutanan di Indonesia untuk penyebaran pertanaman. Dari Jawa jenis ini kemudian diperkenalkan ke berbagai pulau lainnya di Indonesia.  Kepopuleran jenis ini lalu membangkitkan minat di tempat lain dan benihnya dikirimkan ke negara-negara lain di Afrika, Asia dan bahkan kembali ke Amerika Tengah. Sekarang jenis ini diyakini telah tersebar di seluruh kawasan tropis. Pada waktu yang bersamaan, yaitu awal tahun  1980-an, suatu lembaga penelitian di Costa Rica, CATIE, melakukan pengumpulan benih dari beberapa provenans di Guatemala, Costa Rica dan Honduras untuk uji coba di Amerika Tengah.  Pada tahun  1990  Oxford Forestry Institute mulai melakukan pengumpulan benih secara lebih luas lagi, dan kegiatan ini berakhir pada tahun  1993. Pengumpulan biji ini meliputi 50 provenans dari delapan negara di sebaran alaminya. Biji yang dikumpulkan dikirimkan ke 32 negara untuk evaluasi jenis dan provenans. Percobaan tersebut menunjukkan bahwa provenans yang diintroduksi ke Jawa pada tahun 1930-an, yang merupakan sumber dari hampir semua populasi eksotik, merupakan salah satu yang paling produktif dari provenans yang ada. Provenans lain yang cepat tumbuh adalah San Ramón, dari Nikaragua, yang menghasilkan lebih banyak biomassa tetapi kurang baik kualitasnya sebagai hijauan ternak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Calliandra calothyrsus tumbuh alami di sepanjang bantaran sungai, tetapi dengan cepat akan  menempati areal yang vegetasinya terganggu (misalnya, tepi-tepi jalan). Jenis ini tidak tahan  naungan dan cepat sekali kalah bersaing dengan vegetasi sekunder lain. Di Meksiko dan Amerika Tengah tanaman ini tumbuh di berbagai habitat dari ketinggian permukaan laut sampai 1860 m. Jenis ini terutama terdapat di daerah yang curah hujannya berkisar antara 1000 dan 4000 mm,  meskipun populasi tertentu terdapat di daerah yang curah hujan tahunannya hanya  800 mm. Jenis ini terutama terdapat di daerah yang musim kemaraunya berlangsung selama 2-4 bulan (dengan curah hujan kurang dari 50 mm per bulan). Namun pernah ada juga spesimen yang ditemukan di daerah yang musim kemaraunya mencapai 6 bulan. Jenis ini tumbuh di daerah dengan suhu minimum tahunan 18-22° C. Jenis ini tidak tahan terhadap pembekuan. Di tempat tumbuh aslinya, jenis ini hidup pada berbagai tipe tanah dan tampaknya tahan terhadap tanah yang agak masam dengan pH sekitar 4,5. Jenis ini tidak tahan terhadap tanah yang drainasenya buruk dan yang tergenang secara teratur.

 

4. Habitus

Calliandra calothyrsus adalah pohon kecil bercabang yang tumbuh mencapai tinggi maksimum 12 m dan diameter batang maksimum 20 cm. Kulit batangnya berwarna merah atau abu-abu yang tertutup oleh lentisel kecil, pucat berbentuk oval. Ke arah pucuk batang cenderung bergerigi, dan pada pohon yang batangnya coklat-kemerahan, ujung batangnya bisa berulas merah. Di bawah batang, sistem akarnya terdiri dari beberapa akar tunjang dengan akar yang lebih halus yang jumlahnya sangat banyak dan memanjang sampai ke luar permukaan tanah. Jika di dalam tanah terdapat rhizobia dan mikoriza, akan terbentuk asosiasi antara jamur dengan bintil-bintil akar. Dalam populasi jenis tertentu pertumbuhan akar tumbuh menyerupai akar penghisap sehingga tanaman membentuk rumpun yang sebenarnya merupakan satu tanaman tunggal saja.  Jenis ini memiliki daun-daun yang lunak yang terbagi menjadi daun-daun kecil. Panjang daun utama dapat mencapai 20 cm dan lebarnya mencapai 15 cm dan pada malam hari daun-daun ini melipat ke arah batang. Tangkai daun bergerigi dengan semacam tulang di bagian permukaan atasnya, tetapi tidak memiliki kelenjar-kelenjar pada tulang sekundernya. Di sebaran alaminya, tanaman ini berbunga sepanjang tahun, tetapi masa puncak pembungaannya terjadi antara bulan Juli dan Maret. Di Indonesia, musim berbunga jenis ini sangat bervariasi antara daerah satu dengan daerah lainnya, bergantung pada jumlah curah hujan dan persebarannya, dan puncaknya berlangsung antara bulan Januari dan April. Tandan bunga berkembang dalam posisi terpusat. Bunganya bergerombol di sekitar ujung batang. Bunga menjadi matang dari pangkal ke ujung selama beberapa bulan. Bunga ini mekar selama satu malam saja dengan benang-benang mencolok yang umumnya berwarna putih di pangkalnya dan merah di ujungnya (walaupun kadang ada juga yang berwarna merah-jambu). Sehari kemudian benang-benang ini akan layu dan bunga yang tidak mengalami pembuahan akan gugur. Polong terbentuk selama dua sampai empat bulan dan ketika sudah masak, panjangnya dapat mencapai 14 cm dan lebarnya 2 cm. Polong berbentuk lurus dan berwarna agak coklat, dan berisi 8-12 bakal biji yang akan berkembang menjadi biji oval yang pipih. Permukaan biji yang sudah matang berbintik hitam dan coklat, dan terdapat tanda yang khas berbentuk ladam kuda pada kedua permukannya yang rata. Biji yang masak panjangnya dapat mencapai 8 mm dan keras ketika ditekan dengan kuku. Di tempat persebaran alaminya, puncak musim biji terjadi antara bulan November dan April. Di Indonesia, C. calothyrsus menghasilkan biji dari bulan Juli sampai November. Dengan keringnya polong, maka pinggirannya yang tebal mengeras sehingga polong merekah mendadak dari ujungnya. Bijinya keluar dengan gerakan berputar dan bisa terpental sejauh 10 m. Kecambah tumbuh dengan kedua keping biji muncul di atas permukaan tanah. Daun pertama hanya memiliki satu sumbu yang menjadi tempat tumbuh helai daun, tetapi daun berikutnya terbagi menjadi sumbu-sumbu sekunder.

 

 

5. Penggunaan dan Pemanfaatan

Spesies tanaman multiguna ditanam utamanya untuk hijauan pakan suplemen bagi pakan kualitas rendah yang diberikan pada ruminansia. Juga digunakan sebagai pupuk hijau, tanaman pelindung bagi kopi dan teh, untuk memperbaiki tanah dan menahan erosi. Digunakan sebagai sumber serbuk sari bagi produksi madu. Juga sangat penting di sebagain Afrika (seperti Uganda, Rwanda) sebagai panjatan bagi tanaman kacang-kacangan. Sumber kayu bakar yang sangat baik, kayu kaliandra kering sangat cepat (batang kecil kering satu hari) dan terbakar dengan baik tanpa asap.

 

6. Penanaman

Biji memerlukan skarifikasi seperti merendam biji dalam air dingin selama 48 jam. Penggunaan air panas berisiko membunuh biji akibat suhu tinggi yang berlebihan. Skarifikasi secara mekanis juga dapat dilakukan. Penanaman dapat dilakukan dengan cara semai langsung biji yang telah diskarifikasi pada kedalaman 1-3 cm atau dengan pindah tanam bibit yang telah setinggi 20-50 cm yang telah ditumbuhkan pada tempat pembibitan. Bibit dapat ditanam berbaris dengan jarak tanam 3-4 m, atau pada penggunaan sebagai sumber pakan ditanam dengan jarak 0,5-1 m secara menyebar. Penggunaan inokulasi mungkin bermanfaat pada daerah baru ditanamai. Pertumbuhan awal lambat tetapi pertumbuhan selanjutnya sangat cepat dan pohon dapat mencapai tinggi 3,5 m dalam 6 bulan. Tidak dapat tumbuh baik bila dipotong.

 

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
If you enjoyed this post, make sure you subscribe to my RSS feed!

Leave a Reply